Efektivitas Jamu Kombinasi Kunyit (Curcuma Longa) dan Jahe ( Zingiber Officinale ) terhadap Penurunan Nyeri Haid Primer
Shinta Hardian, Nurhidayah
(2026)
Efektivitas Jamu Kombinasi Kunyit (Curcuma Longa) dan Jahe ( Zingiber Officinale ) terhadap Penurunan Nyeri Haid Primer .
KIR KREVALIS Repository.
Abstract
Nyeri haid primer (dismenore primer) merupakan kondisi medis umum pada
perempuan usia produktif yang ditandai oleh tingginya produksi prostaglandin,
sehingga memicu kontraksi rahim secara berlebihan dan menyebabkan rasa nyeri
hebat. Penggunaan obat kimia pereda nyeri secara terus-menerus berisiko
menimbulkan efek samping seperti gangguan lambung dan ketergantungan, sehingga
masyarakat membutuhkan alternatif pengobatan alami berbasis herbal yang lebih
aman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian jamu kombinasi
rimpang kunyit (Curcuma longa) dan jahe (Zingiber officinale) terhadap penurunan
intensitas nyeri haid primer, menganalisis perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah
intervensi, serta mengidentifikasi potensi efek samping pascakonsumsi. Metode
penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan pendekatan
observasional berskala kecil (pilot study). Penelitian ini dilaksanakan di Bulu Awo,
Sulawesi Selatan, dengan melibatkan dua orang responden perempuan yang sedang
mengalami dismenore primer. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan melalui
kuesioner berskala 1–5, yang diberikan pada saat pre-test (sebelum meminum jamu)
dan post-test (sesudah meminum jamu). Hasil analisis data menunjukkan bahwa
pemberian jamu kombinasi ini sangat efektifdalam menurunkan intensitas nyeri. Skor
rata-rata nyeri responden menurun secara signifikan dari 4,5 (kategori nyeri berat)
menjadi 2,5 (kategori nyeri ringan menuju sedang), mencatatkan penurunan sebesar
dua poin penuh secara konsisten pada tiap individu. Efektivitas ini dikarenakan
mekanisme multi-target yang bekerja sinergis: senyawa kurkumin dari kunyit aktif
menghambat produksi prostaglandin (berfungsi sebagai antiinflamasi), sementara
senyawa gingerol dari jahe bekerja merelaksasi otot miometrium (sebagai agen
antispasmodik alami) serta mempercepat sirkulasi darah. Terkait efek samping, tidak
ditemukan gejala medis berat yang membahayakan. Responden sekadar merasakan
sensasi hangat di area lambung yang merupakan respons fisiologis normal, disertai
dengan efek penyerta positif berupa berkurangnya kram perut secara keseluruhan.
Kesimpulannya, jamu kombinasi kunyit dan jahe terbukti valid sebagai terapi
komplementer nonfarmakologis yang mudah dibuat, efektif, serta relatif aman.
Disarankan bagi penderita asam lambung tinggi untuk menghindari konsumsinya
dalam kondisi perut kosong, atau menambahkan madu murni sebagai agen penetralisir
untuk mencegah iritasi.
Kata Kunci: Nyeri Haid Primer, Dismenore, Kunyit, Jahe, Terapi Komplementer.
perempuan usia produktif yang ditandai oleh tingginya produksi prostaglandin,
sehingga memicu kontraksi rahim secara berlebihan dan menyebabkan rasa nyeri
hebat. Penggunaan obat kimia pereda nyeri secara terus-menerus berisiko
menimbulkan efek samping seperti gangguan lambung dan ketergantungan, sehingga
masyarakat membutuhkan alternatif pengobatan alami berbasis herbal yang lebih
aman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian jamu kombinasi
rimpang kunyit (Curcuma longa) dan jahe (Zingiber officinale) terhadap penurunan
intensitas nyeri haid primer, menganalisis perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah
intervensi, serta mengidentifikasi potensi efek samping pascakonsumsi. Metode
penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan pendekatan
observasional berskala kecil (pilot study). Penelitian ini dilaksanakan di Bulu Awo,
Sulawesi Selatan, dengan melibatkan dua orang responden perempuan yang sedang
mengalami dismenore primer. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan melalui
kuesioner berskala 1–5, yang diberikan pada saat pre-test (sebelum meminum jamu)
dan post-test (sesudah meminum jamu). Hasil analisis data menunjukkan bahwa
pemberian jamu kombinasi ini sangat efektifdalam menurunkan intensitas nyeri. Skor
rata-rata nyeri responden menurun secara signifikan dari 4,5 (kategori nyeri berat)
menjadi 2,5 (kategori nyeri ringan menuju sedang), mencatatkan penurunan sebesar
dua poin penuh secara konsisten pada tiap individu. Efektivitas ini dikarenakan
mekanisme multi-target yang bekerja sinergis: senyawa kurkumin dari kunyit aktif
menghambat produksi prostaglandin (berfungsi sebagai antiinflamasi), sementara
senyawa gingerol dari jahe bekerja merelaksasi otot miometrium (sebagai agen
antispasmodik alami) serta mempercepat sirkulasi darah. Terkait efek samping, tidak
ditemukan gejala medis berat yang membahayakan. Responden sekadar merasakan
sensasi hangat di area lambung yang merupakan respons fisiologis normal, disertai
dengan efek penyerta positif berupa berkurangnya kram perut secara keseluruhan.
Kesimpulannya, jamu kombinasi kunyit dan jahe terbukti valid sebagai terapi
komplementer nonfarmakologis yang mudah dibuat, efektif, serta relatif aman.
Disarankan bagi penderita asam lambung tinggi untuk menghindari konsumsinya
dalam kondisi perut kosong, atau menambahkan madu murni sebagai agen penetralisir
untuk mencegah iritasi.
Kata Kunci: Nyeri Haid Primer, Dismenore, Kunyit, Jahe, Terapi Komplementer.
| Item Type: | Article / Karya Tulis Ilmiah |
|---|---|
| Penulis (Ketua): | Shinta Hardian |
| Penulis 1: | Nurhidayah |
| Kategori: | Sains dan Teknologi |
| Date Deposited: | 10 Juni 2026 |
| URI: | https://e-repository.kirkrevalissmanawa.online/detail.php?id=30 |